Rabu, 09 September 2020

Pikiran kacau emosi tak terkendali.






Emosi yang kita rasakan sangat memengaruhi tindakan kita selanjutnya. Jika kita  sedang merasa senang alias emosi positif, tentu segala aktivitas kita akan semakin ringan. Berbanding terbalik jika kita sedang marah, kalut, dan sedih. Emosi negatif ini akan membuat hari kita kian buruk dan akhirnya tidak bersemangat. Sebenarnya, kita  bisa kok mengendalikan emosi saat sedang kalut. Bagaimana ya caranya?

Wajar sih jika emosi kita tersulut tiba-tiba usai mendengar kabar yang kurang mengenakkan. Emosi memang kerap kali datang tanpa di minta dan di waktu yang tidak diduga. Kalau sudah begini, kita dituntut untuk tetap tenang sembari menyingkirkan pikiran-pikiran negatif tersebut.

Nah, beberapa cara mengendalikan emosi yang bisa kita lakukan, antara lain:

1. Buang pikiran buruk jauh-jauh

Saat sedang dilanda oleh masalah yang pelik, otak kita akan cenderung lebih fokus memikirkan jalan keluar terbaiknya. Padahal tanpa disadari, terkadang bukan masalah yang mendorong munculnya reaksi negatif. Melainkan pikiran dan asumi buruk yang kita ciptakan sendiri.

Maka itu, salah satu cara mengendalikan emosi bisa dilakukan dengan berhenti memikirkan kemungkinan buruk yang terus menghantui diri kita. Terdengar klise memang, tapi menghindari diri agar tidak terlalu larut dalam masalah justru bisa meringankan beban kita sedikit demi sedikit.

Jika kita sedang berada di keramaian atau di tengah rapat  kantor, minta sedikit waktu menenangkan diri  kita di tempat yang sepi dan nyaman. Tentunya bila kondisi tersebut memungkinkan. Mencari udara segar setidaknya dapat membantu untuk membangkitkan pikiran ke arah yang positif.

2. Hindari langsung meluapkan reaksi buruk

kekerasan emosional

Berteriak, memaki, menangis, menjerit, bahkan menghancurkan benda yang ada di sekitar, sering kali dipilih sebagai bentuk luapan emosi yang sudah tidak dapat terbendung. Namun alangkah baiknya bila kita memikirkan matang-matang konsekuensi apa yang akan kita terima dari perilaku ini.

Otak adalah salah satu bagian tubuh yang terlibat paling dominan saat sedang dirundung masalah. Di saat yang bersamaan, otak juga bisa kesulitan untuk membuat keputusan yang masuk akal ketika emosi sudah memuncak.

Sebab tidak menutup kemungkinan, masalah justru akan bertambah runyam karena reaksi kita yang cenderung berlebihan. Sebagai gantinya, coba tenangkan diri dengan menarik napas dalam lalu keluarkan secara perlahan. Lakukan teknik pernapasan ini selama beberapa menit, lalu rasakan sensasi nyaman yang berbeda dari sebelumnya.

Dijamin, kita bisa lebih berhati-hati dalam memutuskan langkah apa yang akan diambil selanjutnya.

3. Pancarkan emosi positif

bahagia senang senyum wanita sehat

Membiarkan diri terpuruk dalam emosi negatif yang membelenggu tentu tidak baik. Daripada terus-menerus kepikiran cekcok dengan pasangan semalam atau omongan menyakitkan si bos tadi pagi, kenapa tidak coba cari jalan keluar yang justru bisa memunculkan aura positif kita?

Ya, setelah sudah cukup tenang, pikirkan inti dari permasalahan yang membuat kita uring-uringan ini. Selanjutnya, petik manfaat baik yang bisa dijadikan ‘cambuk’ positif untuk menghalau emosi buruk kita. Anggap saja perkataan dari bos sebagai sebuah masukan baik yang akan meningkatkan kinerja kita

Perdebatan dengan pasangan pun bisa kita jadikan sebagai peluang baik guna mencari kelebihan dan kekurangan demi keharmonisan hubungan ke depannya. Memang, bukan hal mudah untuk menemukan hikmah dibalik pahitnya emosi negatif. Akan tetapi di sisi lain, kemampuan melihat permasalahan dari sisi yang baik bisa jadi ajang ‘balas dendam’ untuk membantu kita memancarkan emosi positif.

4. Coba lebih berlapang dada

mencintai diri sendiri

Setelah berjuang menghalau masalah yang kadang datang bertubi-tubi, kini saatnya Anda bangkit untuk membuktikan bahwa kita baik-baik saja. Bukan berarti kita harus terus menutupi kesedihan yang ada.

Hanya saja, tidak semua permasalahan harus ditunjukkan secara terang-terangan — terlebih ketika sedang berada di situasi yang mengharuskan kita tetap bersikap profesional.

Jadi apa yang sebaiknya dilakukan? kita perlu menerima dengan lapang dada bahwa ada beberapa hal yang tidak mungkin diubah. Tugas kita di sini adalah mengendalikan emosi tersebut, sesulit dan seberat apapun rasanya.

Lagi-lagi, jangan terlalu terjebak dalam sisi negatif dari masalah kita. Coba tengok sisi positifnya, yang mungkin bisa kita ambil sebagai bentuk penyemangat diri untuk bertindak lebih baik lagi.

Semoga bermanfaat buat kita semua.

Senin, 07 September 2020

 IMPIAN SEORANG ANAK.

Saat ditanya mengenai cita-cita, anak kecil mungkin dapat menjawabnya dengan sangat cepat dan penuh keyakinan. Dengan senyuman lebar dan suara lantang, mereka pasti bisa menjawab pertanyaan ini dengan tegas. Namun seiring berjalannya waktu, proses yang dialami akan membuat beberapa dari mereka mengubah impiannya, ada yang tetap berusaha mengejar impian masa kecilnya, bahkan ada juga yang memilih berhenti untuk bermimpi.

Seperti kisah di bawah ini :

Seorang anak mendapat tugas dari gurunya untuk membuat cerita tentang impian-impiannya, karena ayahnya seorang pelatih kuda yang miskin dan serba kekurangan, dengan penuh semangat ia pun membuat cerita. Kalo dia sudah besar nanti ia ingin memiliki lahan tempat pelatihan kuda seluas 400 H dan rumah sebesar  400 M³. Begitu asiknya si anak dengan impian-impiannyatanpaterasa karangan tadi menghabiskan 7 lembar kertas dan paginya ia pun langsung mengumpulkan tugasnya kepada gurunya di sekolah. Setelah seminggu berlalu tugas tersebutpun di bagikan dan di berikan nila, berasa kaget si anak karena karangannya mendapat nilai F bahkan ia di marahi karena karangannya di anggap tidak masuk akal dan tidak akan pernah akan tercapai karena ia hanya anak pelatih kuda yang miskin, sehingga tidak mungkin akan membangun lahan pelatihan kuda 400 H. Demikian menurut sang guru dan si anak di beri waktu semingu untuk mengganti karangannya tsb dengan karangan yang lebih logis dan masuk akal agar nilainya bisa di ganti. Sesampanya di rumah, si anak mengadu kepada ayahnya :”Ayah … saya punya mimpi ayah, membangun lahan pelatihan kuda seluas 400 H tapi menurut guru saya mimpi itu takkan pernah tercapai dan saya di suruh mengganti  mimpi itu menjadi mimpi yang  lain yang bisa masuk akal dan lebih sesuai”. Mendengar curahan hati si anak sang ayah dengan bijak penuh kesabaran dan berkata : “ anakku mimpimu adalah masa depanmu dan kamu lah yang akan menjalani masa depan itu. Jadi terserah kamu nak, kamu mau mengganti mimpi itu atau tidak”. Mendengar dan penjelasan dari ayahnya  si anak pun tetap membawa tugas nya untuk di kiumpulkan kepada gurunya dan seperti sudah di duga nilai F masih tertulis kertas itu. Setelah berpuluhan tahun berlalu si anak akhirnya beranjak dewasa dan dia akhirnya bisa menggapai mimpinya mempunyai lahan pelatihan kuda seluas 400 H dan juga rumah sebesar 400 M³. ketika gurunya yg dulu datang ke tempat pelatihan kuda dan bertemu dengannya, si guru berkata :“kamu hebat nak, maafkan saya bila dulu sya tlah melarang kamu untuk bermimipi sperti ini, saya sangat salut pada mu nak… akau menyesal sekali, sebagai seorang guru seharusnya saya mendukung  mimpi-mimpi itu bukan merengutnya seperti apa yang telah saya lakukan kepadamu”.

Jangan sekali-kali meremehkan sebuah mimpi. kesuksesan itu berawal dari mimpi. kita tidak tau bagaimana sesorang mencapainya. 

Masih banyak kisah inspiratif lainnya. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Minggu, 06 September 2020

Beberapa mekanisme pertahanan ego yang sering di lakukan manusia dalam mengatasi masalah. Mana sering kamu lakukan ?.


1. Diplacement atau pemindahan.

    Apakah kamu pernah mengalami hari yang buruk, lantas kamu menuangkan emosi dan kemarahanmu kepada keluarga atau temanmu? Apabila kamu sering melakukan ini maka kamu memiliki mekanisme pertahanan ego berupa displacement (pemindahan).

    Sesuai namanya, displacement  berusaha memindahkan perasaan negatif yang mengancam kepada hal-hal yang kurang mengancam. Alih-alih mengungkapkan kemarahan kepada objek yang bersangkutan, kita malah menyerang hal lain yang terasa kurang mengancam.

    Misalnya Kemarin, B putus dengan sang kekasih karena disangka berselingkuh. Ia sudah berusaha menjelaskan kepada kekasihnya tersebut bahwa hal tersebut tidaklah benar. Akan tetapi, kekasih B tersebut tetap tidak percaya dan malah membentaknya. Melihat respon dari kekasihnya tersebut, B merasa kesal sekaligus kecewa, sehingga ia memutuskan hubungan mereka. Kejadian ini menyebabkan B menjadi individu yang mudah marah terhadap teman-teman dan adiknya, serta ia juga merobek-robek beberapa foto kenangan mereka berdua.

    Singkatnya, pada kasus di atas, B mengalihkan emosi negatifnya kepada adik, teman, dan foto kenangan mereka. Dengan melakukan hal tersebut, perasaan B dapat sedikit lebih tenang karena emosinya sudah tersalurkan, meskipun tidak langsung kepada penyebab utama, yaitu kekasihnya.

2. denial atau penyangkalan.

    Ketika kita melakukan perbuatan buruk dan ketahuan, kita bakal berusaha menyangkal perbuatan tersebut.

    Penyangkalan ini berfungsi untuk melindungi ego pribadi kita dari hal-hal yang gak bisa kita atasi. Ketika melakukan penyangkalan kita berusaha terhindar dari rasa sakit, penolakan, hingga kecemasan berlanjut yang mungkin akan kita dapatkan apabila berkata jujur

    Seseorang yang tidak di terima di universitas negeriyang ia mau dan mencoba  menghindari pembicaraan atau ganti pembicaran.

3. Proyeksi

    Hah ini tanpa sadar sering dilakukan seseorang sebagai mekanisme pertahanan egonya. Strategi ini berusaha melibatkan perasaan atau pemikiran kita sendiri terhadap perasaan atau pemikiran orang lain.

    Misalnya, ketika kita membenci seseorang, kita akan melakukan proyeksi bahwa orang tersebut juga membenci kita. Proyeksi ini bekerja dengan mengekspresikan keinginan atau dorongan hati kita, namun dengan cara yang tidak dikenali oleh ego untuk mengurangi kecemasan.

4. Sublimasi

    Sublimasi adalah bentuk mekanisme pertahanan ego yang menunjukkan proses kedewasaan. Ia mengubah hal buruk yang ia miliki menjadi hal yang lebih bermanfaat dan dapat diterima orang lain.

    Misalnya, seseorang sadar bahwa ia memiliki emosi tinggi. Oleh karena itu ia melampiaskan emosinya tersebut dengan berlatih bela diri.

5. Rasionalisasi

    Rasionalisasi adalah mekanisme pertahanan dengan menjelaskan perilaku atau perasaan yang tidak dapat diterima secara rasional untuk menghindari alasan sebenarnya untuk perilaku tersebut.

    Misalnya, seseorang yang ditolak kencan akan mengatakan pada orang-orang bahwa ia tidak tertarik dengan pasangan kencannya tersebut. Rasionalisasi ini dilakukan untuk melindungi harga dirinya yang ditolak.


Semoga bermanfaat,